Respons Isu ‘Radikalisme’ MD Angkat Tema Moderasi Beragama dalam PKM

Sabtu, 20 Maret 2020 Prodi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Kegitan tersebut ditujukan kepada para khatib muda. Kali ini, kelompok PKM dari prodi Manajemen Dakwah dibagi menjadi tiga kelompok, salah satunya adalah kelompok kami. Berdasarkan surat tugas Nomor: B.901/ln.10/F.I/HM.00/03/2020 maka dosen yang ditunjuk dalam penyelenggaraanya adalah Dr. H. Agus Wahyu Triatmo, M.Ag., Akhmad Anwar Dani, S.Sos.I., M.Sos.I., dan Fathurrohman Husen, M.S.I.

Di antara peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah utusan pemuda dari berbagai daerah di Wonogiri dan sekitarnya, seperti kecamatan Giritontro, Pracimantoro, Eromoko, dan Ronkop-Gunung Kidul. Kegiatan berlangsung di Aula SD Muhammadiyah Program Khusus Pracimantoro, Jalan Taruna HS Km 0.3 Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan PKM dimulai pada pukul 09.00 s.d. 12.00.

Tema yang diangkat pada kelompok ini adalah “Moderasi Khatib Muda Pasca-Pandemi Covid 19: Metode Dakwah dan Literasi”. Materi disampaikan secara bergantian yang mencakup: fikih khotbah, pentingnya tradisi literasi di era disrupsi, dan moderasi beragama dalam memilih maddah khotbah.

Dalam fikih khotbah disampaikan, bahwa tujuan khotbah Jumat adalah li dzikrillah serta terpenuhinya rukun dalam salatnya. Khotbah wajib dilakukan 2x dengan cara berdiri dan diselingi dengan duduk sejenak di antara keduanya. Adapun sunah dalam khotbah, disampaikan: dimulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Swt., selawat, syahadat (plus Q.S.3.102; Q.S.4.1; Q.S. 33.70-71); mengeraskan suara/mengagungkan; memendekkan khotbah dan memanjangkan salat; membaca ayat Al-Qur’an dalam khotbah; dan mendoakan kaum muslim (dengan isyarat telunjuk). Disampaikan juga hal-hal yang mubah dilakukan khotib.

Dalam merespons pentingnya tradisi litarasi bertujuan untuk senantiasa belajar dan mampu mengolah informasi yang ia dapat, termasuk maddah (materi) dakwah/khotbah. Mengutip dari Fathi Yakan dalam kitab Kaifa Mad’u ilal Islami, pemateri menyampaikan, “tertatriknya mad’u kepada ajaran Islam tergantung pada maddah yang disampaikan. Karenanya, penting disampaikan tentang keistimewaan/totalitas dari ajaran Islam.

Ditekankan oleh pemateri Fathurrohman Husen, M.S.I., bahwa terkait era disrupsi (yang serba ingin cepat, simpel, terjangkau, murah) yang dihadapi oleh para khatib muda (milenial) untuk menentukan teks khotbah maka harus wasathiyah (adil, berimbang), tidak mengarah kepada over-tekstual atau over-kontekstual; tidak jabariyah atau qadariyah. Bagaimana tipsnya? Maka budayakan literasi, di antaranya mengakses website-website penyedia teks khotbah yang up to date dan moderat.

Moderasi Islam bukan ajaran baru dari Islam, melainkan cara pandang kita terhadap ajaran dan pengamalan Islam. Dengan ikut menyuarakan moderasi beragama, khotib muda dapat menjadi mitra suatu kepemimpinan negara, tidak hanya mengkritik saja tapi juga menyampaikan solusi.

Moderasi beragama penting bagi kehidupan era disrupsi. Dipahami indikatornya, yaitu masyarakat yang lebih memilih sesuatu yang lebih cepat, mudah, murah, dan lebih terjangkau. Sebagaimana pemateri mengutip dari Prof. Dr. Amin Abdullah tentang elemen apa saja yang harus ada dalam moderasi beragama: 1) perubahan dan reformasi substansial, 2) ulum al-din yang dikombinasikan dengan pendidikan sains, sosial, dan humaniora, 3) fresh ijtihad, 4) meyakini adanya perubahan dalam hal itelektual, moral, hukum, ekonomi, dan teknologi, 5) Tidak fanatik mazhab atau teologi tertentu, 6) berkeadilan dan harmonisasi dalam beragama.

Dr. Agus Wahyu Triatmo dalam closing statement nya menyampaikan tentang pentingnya pembuatan materi khotbah didasarkan pada problem yang sedang hits di zaman dan lokasi khotbah. Sebelum membuat teks, khatib hendaknya melakukan riset sederhana, sehingga dalam khatbah disajikan data, kemudian disampaikan bagaimana solusinya menurut ajaran Islam.

Harapanya, para jamaah salat Jumat tidak mengantuk. Beliau menyampaikan, guyonan yang muncul dalam salat Jumat ­yang sebenarnya berkonotasi negatif­ yaitu “barang siapa yang sakit karena tidak bisa tidur maka salat Jumatlah, dengan begitu akan bisa tidur”. Hal demikian sebenarnya menjadi PR para khotib. Akhirnya pemudalah yang harus berperan aktif juga sehingga ajaran Islam tersampaikan dengan baik di mimbar Jumat, tidak membosankan dan solutif akan persoalan yang sedang terjadi.

Kegiatan PKM berjalan dengan khitmat, diskusi aktif, dan antusias. Harapanya, kegiatan yang diselenggaran atas kerjasama Pendidikan Perguruan Tinggi Islam dengan lembaga masyarakat terus dibangun dan dikembangkan. fh